Jumat, 16 Oktober 2015

Pengertian Sistem Informasi

1. Pengertian Sistem
Menurut Musanef (dalam Syafiie, & Azhari, 2006) pengertian sistem ialah suatu sarana yang menguasai keadaan dan pekerjaan agar dalam menjalankan tugas dapat teratur.
Menurut Pamudji (dalam Syafiie, & Azhari, 2006) pengertian sistem adalah suatu kebulatan dan keseluruhan yang komplek atau terorganisir, dimana suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan atau keseluruhan yang komplek atau utuh.
Menurut Prajudi (dalam Syafiie, & Azhari, 2006) pengertian sistem merupakan suatu jaringan daripada prosedur-prosedur yang berhubungan satu sama lain menurut skema atau pola yang bulat untuk menggerakkan suatu fungsi yang utama dari suatu usaha atau urusan.
Jadi, dapat disimpulkan menurut tokoh-tokoh diatas sistem adalah suatu sarana yang komplek atau terorganisir yang berhubungan satu dengan lainnya dengan tujuan menjalankan tugas dapat teratur.
2. Pengertian Informasi
Menurut Azhar Susanto (2008) menjelaskan  bahwa informasi merupakan hasil pengolahan data yang memberikan arti dan manfaat tertentu.
Menurut Sutabri (2012) informasi adalah data yang diolah dan diinterpretasikan untuk mengambil sebuah keputusan.
Menurut Alamsyah (2005) informasi adalah data yang telah diolah dengan cara tertentu sesuai dengan bentuk yang diperlukan.
Jadi, dapat disimpulkan menurut tokoh-tokoh diatas informasi adalah data yang diolah dan diinterpretasikan sehingga mempunyai arti dan manfaat tertentu.
3. Pengertian Psikologi
Menurut Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk , berjalan dan lain sebgainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.
Menurut Wundt (dalam Heru Basuki, 2008) mengatakan bahwa psikologi merupakan ilmu tentang kesadaran manusia. Pengertian tersebut memberikan pemahaman bahwa psikologi juga mempelajari tentang kesadaran manusia dalam berbagai hal. 
Menurut Gardner Murphy (dalam Sarwono, 2009) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
Jadi, dapat disimpulkan menurut tokoh-tokoh diatas Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia.
4. Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Berdasarkan pengertian istilah-istilah diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu sistem yang mengolah data yang berhubungan dengan psikologi untuk memperoleh tujuan tertentu.

Sumber:
Syafiie, I.K., & Azhari. (2006). Sistem Politik Indonesia. Bandung: Refika Aditama
Sutabri, T. (2012). Analisis sistem informasi. Yogyakarta : Penerbit Andi
Alamsyah, Z. (2005). Manajemen sistem informasi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Azhar ,S. (2008). Sistem Informasi Akuntansi. Bandung: Lingga Jaya.
Muhibbinsyah. 2001. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Heru Basuki, A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma
Sarwono, S. W. (2009). Pengantar psikologi umum. Jakarta : Rajawali Pers




Selasa, 09 Juni 2015

Rational Emotive Behavior Therapy

Sejarah Rational Emotive Behavior Therapy
Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) sebagai salah satu  pendekatan dalam konseling individu dan kelompok, dikembangkan oleh Alber Ellis sejak tahun 1955. Albert Ellis lahir di Pittsburg, Pensylvania tahun 1913. Sebagai pakar psikologis klinis, ia memulai karirnya di bidang konseling perkawinan, keluarga dan seks.

Konsep Rasional Emotive Behavior Therapy
Konsep-konsep dasar terapi rasional emotive ini mengikuti pola yang didasarkan pada teori A-B-C, yaitu:
A = Activating Experence (pengalaman aktif) Ialah suatu keadaan, fakta peristiwa, atau tingkah laku yang dialami individu.
B = Belief System (Cara individu memandang suatu hal). Pandangan dan penghayatan individu terhadap A.
C = Emotional Consequence (akibat emosional). Akibat emosional atau reaksi individu positif atau negative.

Menurut pandangan Ellis, A (pengalaman aktif) tidak langsung menyebabkan timbulnya C (akibat emosional), namun bergantung pada B (belief system). Hubungan dan teori A-B-C yang didasari tentang teori rasional emotif dari Ellis dapat digambarkan sebagai berikut:
A--------C
Keterangan:
---: Pengaruh tidak langsung
B  : Pengaruh langsung

Teori A-B-C tersebut, sasaran utama yang harus diubah adalah aspek B (Belief Sistem) yaitu bagaimana caranya seseorang itu memandang atau menghayati sesuatu yang irasional, sedangkan konselor harus berperan sebagai pendidik, pengarah, mempengaruhi, sehingga dapat mengubah pola pikir klien yang irasional atau keliru menjadi pola pikir yang rasional.

Tujuan Rational Emotive Behavior Therapy
Albert Ellis (2 September 1913 –  24 Juli 2007) adalah seorang  psikolog Amerika, ia dilahirkan dari keluarga Yahudi dan merupakan anak  pertama dari tiga bersaudara.Menurut Corey (2009: 279) tujuan umum Rational Emotive  Behavior Therapy adalah mengajari konseli bagaimana cara memisahkan evaluasi perilaku mereka dari evaluasi diri – esensi dan totalitasnya –  dan  bagaimana cara menerima dengan segala kekurangannya. Sedangkan tujuan dasarnya adalah mengajarkan konseli bagaimana merubah disfungsional emosi dan perilaku mereka menjadi pribadi yang sehat. Selain itu dua tujuan terpenting Rational Emotive Behavior Therapy menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 279) adalah a) membantu konseli dalam proses mencapai unconditional self-acceptance dan unconditional other acceptance, dan b) melihat bagaimana kedua hal itu saling  berkaitan. Sedangkan menurut Ellis (dalam Sharf, 2012: 339) tujuan umum Rational Emotive Behavior Therapy adalah membantu konseli dalam meminimalisir gangguang emosi, menurunkan self-defeating self-behaviors, dan membantu konseli lebih mengaktualisasikan diri sehingga mereka bisa menuju ke kehidupan yang bahagia. Sedangkan tujuan khususnya adalah membantu konseli berpikir lebih bersih dan rasional, memiliki perasaan yang lebih layak, dan bertindak efisien dan efektif dalam mencapai tujuan hidup yang bahagia.

Teknik Rational Emotive Therapy
Terapi Rational-Emoif  menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Berikut beberapa macam teknik yang dipakai sebagai berikut :
1.       Teknik- teknik Emotif (afektif)
·         Assertive Training, digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klienn untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginkan.
·      Sosiodrama, digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan melalui suatu suasana yang didramatisasikan sedemikan rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan, ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
·         Self Modeling, digunakan untuk meminta klie agar “berjanji” atau mengadakan “komitmen” dengn konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
·         Imitasi, digunakan dimana klien diminta untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
2.       Teknik- teknik Behavioristik
Ini digunakan dengan upaya memodifikasi perilaku-perilaku negatif dari klien dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tak rasional dan tak logis. Beberapa teknni yang termasuk dalam teknik behavioristik:
·       Reinforcement, digunakan untuk mendorong klien ke arah perilaku yang lebih rasional dan logis  dengan jalan memberikan pujian verbal ataupun hukuman.
·       Social Modeling, digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku baru pada klien.
·       Live Models, digunakan untu menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.
3.        Teknik-teknik Kognitif 
Teknik ini bertujuan mendorong klien dan memodifikasi aspek kognitifnya agar dapat berfikir atau berperilaku sesuai sistem nilai yang diharapkan baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannnya. Beberapa teknik kognitif yang cukup dikenal :
·       Home Work Assigments, teknik ini memberikan klien tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan dapat menuntut pola perilaku yang diharapkan.
·       Assertive, digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan.

Daftar Pustaka
Surya, Mohamad, Dr., Prof. (2003). Teori-Teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (Bandung: PT. Eresco, 1988)



Kamis, 30 April 2015

Pendekatan Client-Centered



Pendekatan Client-Centered

A.     Konsep Utama
Padangan client-centered tentang sifat manusia menolak konsep tentang kecenderungan-kecenderungan negatif. Beberapa pendekatan beranggapan bahwa manusia menurut kodratnya adalah irasional dan berkecenderungan merusak terhadap dirinya sendiri maupun orang lain kecuali telah menjalani sosialisasi, Rogers menunujukan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia sebagai tersosialisasi dan bergerak ke dapan, berjuang untuk berfungsi penuh, serta memiliki kebaikan yang positif.
Berkat padangan filosofis bahwa individu memiliki kesanggupan yang inheren untuk menjauhi maladjustment  menuju keadaan psikologis yang sehat, terapis meletakan tanggung jawab utamanya bagi proses terapi klien. Model client-centered menolak konsep yang memandang terapis sebagai otoritas yang mengetahui yang terbaik dan memandang klien sebagai manusia pasif yang hanya mengikuti perintah terapis. Oleh karena itum terapi client-centered berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat keputusan-keputusan.

B.     Unsur-Unsur Pendekatan Client-Centered
1.      Tujuan Terapi
Tujuan dasar terapi client-centered adalah menciptakan suasana yang kondusif dalam upaya membantu klien untuk menjadi pribadi yang berfungsi penuh. Dalam mencapai tujuan tersebut, terapi perlu mengusahakan agar klien dapat memahami hal-hal yang ada dalam dirinya sendiri.
a.       Keterbukaan kepada pengalaman
Keterbukaan kepada pengalaman memerlukan pandangan nyata tanpa mengubah bentuk agar sesuai dengan struktur diri yang tersusun sebelumnya.
b.      Kepercayaan terhadap organisme sendiri
Membantu klien dalam membangun rasa percaya terhadap diri sendiri.
c.       Tempat evaluasi internal
d.      Kesediaan untuk menjadi suatu proses
2.      Fungsi dan Peran Terapis
Fungsi terapis adalh untuk membangun suatu suasana terapeutik yang menunjang perkembangan klien. Terapis membangun hubungan yang membantu dimana klien akan mengalami kebebabasan yang diperlukan untuk mengeksplorasi area-area kehidupannya yang sekatang diingkari dan didistorsinya. Klien menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yangh ada dalam dirinya maupun di dunia.
Yang paling utaman, terapis harus bersedia ada dalam   

C.     Teknik-Teknik Pendekatan Client-Centered
Dalam kerangka client-centered, teknik-tekniknya adalah pengungkapan dan pengomunikasian penerimaan, respek, dan pengertian, serta berbagai upaya dengan klien dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merassakan, dan mengekspolitasi.
a.       Aceptance (penerimaan)
b.      Respect (rasa hormat)
c.       Understanding (mengerti, memahami)
d.      Reassurance (menentramkan hati, meyakini)
e.       Encouragement (dorongan)
f.        Limited Questioning (pertanyaan terbatas)
g.       Reflection (memantulkan pertanyaan dan perasaan)

Sumber:
Corey, G., (1999). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama 
 
Copyright 2012 Andri's Blog. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates